Research
vibe coding6/14/20266 min read14 Komentar

Perjalanan Saya Belajar Vibe Coding

Perjalanan Saya Belajar Vibe Coding

Catatan seorang guru matematika yang kepincut ngoding


Awal yang Bermula dari Penasaran Biasa

Sebenarnya, saya bukan orang yang bercita-cita jadi programmer. Saya guru matematika, dan tugas utama saya ya... ngajar.

Tapi akhir-akhir ini, ada kebiasaan baru: setiap nemu masalah di kelas, otak saya langsung berbisik, "Kira-kira ini bisa dibikin aplikasinya ya?"

Mulai dari cara siswa ngecek kehadiran, sampai gimana mereka bisa liat sendiri progres belajarnya tanpa harus nunggu rapor. Ide-ide kecil yang nyangkut di kepala dan nggak mau pergi.

Dari situlah saya mulai googling, dan ketemu istilah yang sekarang lagi rame: vibe coding.


Vibe Coding: Belajar Coding Tanpa Harus Kaku

Kalau diartikan bebas, vibe coding itu cara ngoding yang lebih mengalir. Nggak harus ngerti semuanya dulu, nggak harus hafal semua istilah teknis, dan—ini yang penting—nggak harus jadi programmer profesional buat mulai.

Bagi saya, definisi ini kayak angin segar. Karena kalau harus nunggu sampai "benar-benar siap", saya mungkin nggak akan mulai-mulai.


Pertama Kali Ketemu "Mantra" dari Dunia Lain

Awal kenal vibe coding, saya langsung dijejali istilah yang bunyinya kayak mantra dari dunia lain:

  • Bun — apa ini? Rasanya kayak nama pokemon.
  • Hono — web framework, katanya cepat.
  • Tailwind — bukan nama kapal, tapi framework CSS.
  • shadcn/ui — pakai tanda strip segala, makin bingung.
  • Drizzle — kalau ini nama band, saya mau dengerin.
  • SQLite — database kecil-kecil yang banyak dipake.
  • RustFS — yang satu ini bunyinya kayak nama penyakit.
  • Docker — nah, ini yang paling sering bikin saya mikir, "Docker itu apa, sih? Container? Apaan?"

Setelah dipelajari satu-satu, ternyata semua itu punya peran masing-masing. Ada yang buat jalanin aplikasi, ada yang ngatur tampilan, ada yang nyimpen data, ada juga yang bikin semuanya jalan rapi di mana pun.

Pelan-pelan, mantra-mantra itu mulai bermakna.


Bengkel Ide: Belajar yang Nggak Sendirian

Kalau ada satu hal yang bikin perjalanan ini nggak terasa berat, itu karena saya nggak sendirian.

Bang Hasan jadi mentor utama. Beliaulah yang dengan sabar ngenalin konsep-konsep dasar pengembangan aplikasi. Yang paling saya syukuri dari Bang Hasan bukan cuma ilmunya, tapi cara ngajarnya. Beliau nggak pernah nge-judge waktu saya nanya hal yang keliatan sepele. Justru kadang pertanyaan "kok bisa?" yang keliatan remeh itulah yang nge-trigger penjelasan paling berharga.

Pak Gunanto dan Pak Aan Triono jadi teman seperjalanan. Pas ada error yang bikin pusing, kami tukar screenshot. Pas nemu trik baru, kami saling kirim link. Rasanya kayak masuk bengkel ide—bukan bengkel motor atau mobil, tapi bengkel di mana kami sama-sama bongkar-pasang logika sampai nemu bentuk yang pas.

gmeet belajar vibe coding

Error, Error, dan Error (Hingga Saya Berdamai dengan Tanda Baca)

Kalau ada satu hal yang saya pelajari dari vibe coding, itu: error itu makanan sehari-hari.

Kadang aplikasinya nggak jalan, ternyata saya lupa titik koma. Kadang tampilannya berantakan, ternyata saya salah tutup tag HTML. Kadang loginnya gagal, ternyata saya salah ketik nama kolom database—konsisten banget salahnya, sampai saya hafal di mana letak kesalahannya.

Awalnya saya frustrasi. Lama-lama saya ketawa sendiri. Ada kalanya saya udah yakin kodenya bener, eh pas dijalanin malah muncul pesan error yang bunyinya kayak puisi sedih: "Cannot read property of undefined."

Sekarang saya udah biasa. Bahkan mulai enjoy. Setiap error yang muncul, sebelum nanya AI, saya coba tebak dulu: "Ini pasti salah koma, atau salah petik." Kalau bener, ada kepuasan kecil. Kalau salah, ya udah—salah lagi. Besok masih bisa nyoba.


Momen yang Bikin Semangat: Aplikasi Pertama yang Berhasil Jalan

Ngomongin error terus, kapan senengnya?

Waktu pertama kali aplikasinya benar-benar jalan—bukan jalan tapi nge-lag, bukan jalan tapi error di console—tapi jalan beneran, sesuai yang saya bayangin—rasanya... lucu juga. Saya screenshot sendiri, kirim ke Bang Hasan, terus bilang: "Bang, jalan!"

Beliau balesnya singkat: "Mantap, lanjut."

Dua kata itu lebih berharga dari seribu tutorial.

Sejak saat itu, setiap fitur kecil yang berhasil jalan rasanya kayak menang lotre receh. Pelan-pelan saya ngeh: nggak perlu bikin aplikasi sempurna buat ngerasain puas. Cukup bikin sesuatu yang jalan, lalu bikin lagi yang sedikit lebih baik.


Mimpi yang Mulai Berbentuk: Progresku

Salah satu ide yang paling pengen saya wujudin: Progresku—aplikasi buat bantu siswa liat perjalanan belajar mereka sendiri.

Bayangin gini: siswa nggak cuma tau nilai akhir, tapi bisa liat kehadiran, nilai tugas, capaian kompetensi, sampai tren belajar mereka dari waktu ke waktu. Bukan angka mati, tapi cerita tentang proses mereka bertumbuh.

Saya juga pengen tambahin gamifikasi—biar ngecek progres itu terasa kayak buka peta petualangan, bukan ngecek rapor. Karena saya yakin, kalau siswa bisa liat sendiri proses belajarnya, mereka akan lebih semangat menjalaninya.

Masih berupa ide di atas kertas? Iya. Tapi nggak ada salahnya kan, punya mimpi yang agak ambisius?


Matematika, Coding, dan Kecocokan yang Tak Terduga

Sebagai guru matematika, saya kira belajar coding bakal berat. Ternyata nggak juga.

Soalnya cara berpikirnya mirip: ada logika, ada pola, ada urutan langkah, dan ada pemecahan masalah. Bedanya, matematika berakhir di buku tulis, coding berakhir di layar yang bisa langsung dilihat hasilnya.

Dan yang paling saya suka: ada feedback langsung. Kalau matematika sering butuh waktu lama buat tau jawaban kita bener atau salah, coding langsung kasih tahu—"jalan" atau "error." Sederhana, tapi nagih.

(Ngomong-ngomong, mungkin ini juga alasan kenapa guru matematika punya advantage tertentu waktu belajar ngoding. Tapi itu cerita buat artikel lain.)


Penutup: Bukan Soal Jadi Programmer

Perjalanan ini masih panjang. Saya masih sering bingung, masih sering error, masih sering googling hal-hal yang kayaknya basic banget.

Tapi justru itu yang bikin seru.

Vibe coding ngajarin saya satu hal penting: belajar nggak harus kaku. Bisa mulai dari rasa penasaran kecil, coba bikin sesuatu yang sederhana, lalu terusin pelan-pelan. Nggak harus sempurna di percobaan pertama. Nggak harus langsung paham semuanya.

Buat saya, vibe coding bukan tentang jadi programmer. Tapi tentang punya kemampuan untuk ngubah ide jadi sesuatu yang nyata—sekecil apa pun itu.

Dan kalau ide kecil itu bisa bantu siswa, bantu sekolah, atau bantu orang lain belajar dengan lebih senang, maka usaha ngerti "mantra-mantra" dari dunia Bun, Hono, dan Docker itu—sepadan.

Lagipula, mantra yang awalnya bunyinya asing itu... lama-lama jadi lagu pengantar tidur juga. 🎵


Semua karya yang saya buat termasuk website ini adalah hasil belajar vibe coding, bisa dilihat di sini

Reactions

Log in to react

Share this post

COMMENTS SECTION (14)

Want to join the discussion?

Login to Comment

Yendrika Hamdani

6/16/2026, 9:08:03 AM

Tertarik belajar beginian pak fer...tapi kadang kesibukan ibu rumah tangga dan ibu guru jadi kesulitan bagi waktu, lain kali saya coba belajar dari pak feri...apa boleh??btw ingat nggak sama saya???

Feri Lee

6/16/2026, 3:11:49 PM

Betul Bu, menjadi ibu rumah tangga sekaligus guru sangat menyita waktu untuk berkreasi. Saya masih ingat panjenengan kok, heheheeee

Heni Kristiana

6/16/2026, 4:31:03 AM

Berkahlah selalu ilmunya kagem kakang seperguruan

Feri Lee

6/16/2026, 4:50:39 AM

Aamiin ... Terima kasih nyisanak

Maharani Art

6/15/2026, 3:52:53 PM

Wow sangat inovatif sekali, semakin meluas karyanya. Sangat menginspirasi.

Feri Lee

6/16/2026, 4:50:06 AM

Tingkyu partner

Rida Hifza

6/15/2026, 11:54:31 AM

Kauwereen pol inisiatif Pak Ferilee yang membawa dampak positif bagi dunia pendidikan. Semoga proyek inovatif ini terus berjalan lancar dan sukses. Sebagai sesama pendidik pak Ferilee selalu memberikan inspirasi dan inovasi untuk para pendidik.

Ferilee Admin

6/15/2026, 11:59:13 AM

Aamiin, terima kasih support dan apresiasinya bu Rida.

G

Gunanto Zidan

6/15/2026, 8:51:27 AM

Saya senang sekali, dapat kesempatan belajar bersama Pak Feri yang selalu menginspirasi,sukses selalu ya Pak...

Ferilee Admin

6/15/2026, 11:35:58 AM

Alhamdulillah, terima kasih banyak sudah menemani saya belajar selama ini pak gun. Bapak perkembangannya cepat sekali, saya kagum dengan kreativitas dan semangat bapak yang luar biasa. Bapak juga sangat menginspirasi saya. Sukses juga untuk pak Gun.

T

Tunjung Genarsih

6/15/2026, 5:21:54 AM

Keren mas Feri..semoga nular ke saya krn saya juga pengen bisa buat aplikasi khusus untuk anak didik saya tapi keinginan itu sementara masih di angan2 saja. Saya butuh orang² seperti mas feri untuk terus menginspirasi. Semangat mas

Feri Lee

6/15/2026, 5:56:37 AM

Terima kasih mbak, saya siap diajak diskusi. Di zaman sekarang tidak perlu paham bahasa pemrograman untuk bisa membuat aplikasi, kreatifitas terbuka lebar.

R

Rofiq BOE Malang

6/15/2026, 3:09:28 AM

Sangat menginspirasi... Mindset tidak takut salah, belajar dari kesalahan, empati terhadap kebutuhan pengguna aplikasi, dan selalu bersemangat menuju perbaikan. Can't expect better than this. Semangat Pak Feri dalam menebar kebaikan.

Feri Lee

6/15/2026, 3:23:20 AM

Alhamdulillah, terima kasih banyak atas apresiasinya pak. Komentar bapak menjadi amunisi bagi saya untuk terus belajar.