Research
Bimtek10/4/20263 menit baca0 Komentar

Jadi Murid Lagi, Belajar Digitalisasi Pembelajaran

Jadi Murid Lagi, Belajar Digitalisasi Pembelajaran

Sesekali guru memang perlu kembali jadi murid.

Duduk. Menyimak. Mengerjakan tugas. Dan tentu saja... dinilai. 😄

Itu yang saya alami kemarin, 3 Oktober 2026, waktu mengikuti Bimbingan Teknis Program Digitalisasi Pembelajaran untuk Penguatan Literasi dan Numerasi di SMAN 3 Lumajang, bersama narasumber Lina Dwi Lestari, S.S., M.Pd.

Pesertanya guru dari tujuh sekolah: SMKN Pasirian, SMKN 2 Lumajang, SMK Muhammadiyah Lumajang, SMK Nurul Faroh, SMAN 1 Lumajang, SMAN 3 Lumajang, dan SMA YPP Tempursari. Tiap sekolah mengirim tiga guru. Dari SMKN Pasirian, saya berangkat bareng Arik Wahyuni dan Siti Alimatus.

Perwakilan Guru SMKN Pasirian

Digitalisasi bukan sekadar gadget

Satu hal yang paling nempel di kepala saya: digitalisasi pembelajaran itu bukan sekadar soal laptop, proyektor, aplikasi, atau internet.

Teknologi seharusnya dipakai untuk membangun pembelajaran yang interaktif, kolaboratif, adaptif, dan berpusat pada murid.

Jadi pertanyaannya bukan "teknologi apa yang kita gunakan?", melainkan "apa yang menjadi lebih baik dalam pembelajaran karena teknologi tersebut?"

Karena kalau buku cuma berubah jadi PDF, soal kertas cuma berubah jadi Google Form, sementara cara belajarnya tetap sama... jangan-jangan yang digital cuma medianya. 😄

Dari PID, TPACK, sampai MPI

Di bimtek ini kami nggak cuma menyimak. Ada tugas: mengecek kemampuan mengoperasikan PID, menyusun RPP pembelajaran mendalam dengan integrasi TPACK, dan membuat Media Pembelajaran Interaktif (MPI).

Di sinilah teori ketemu praktik.

Membuat MPI ternyata bukan cuma soal tampilan menarik atau tombol yang bisa diklik. Yang lebih penting: apa yang dilakukan murid saat memakai media itu. Apakah mereka cuma membaca? Atau mengeksplorasi, mencoba, menganalisis, berdiskusi, dan memecahkan masalah?

Karena media yang interaktif belum tentu menghasilkan pembelajaran yang interaktif.

Dan saya nggak pulang dengan tangan kosong. Selama bimtek saya membuat MPI yang bisa dibuka di coderunner-smakenpas.netlify.app — lalu mempresentasikan hasil pembuatan RPP dan MPI-nya di depan para peserta.

presentasi-kelompok

Literasi dan numerasi di dunia digital

Penguatan literasi sekarang nggak cuma lewat buku. Murid berhadapan dengan teks digital, video, infografis, website, media sosial, sampai AI. Mereka bukan cuma perlu membaca, tapi juga memahami, menganalisis, membandingkan, dan menilai informasi.

Begitu juga numerasi. Teknologi bisa membantu murid memahami data lewat simulasi, grafik, visualisasi, latihan interaktif, dan masalah kontekstual.

Sebagai guru matematika, saya melihat ini sebagai peluang besar: membuat angka tidak sekadar dihitung, tetapi dipahami dan dipakai untuk mengambil keputusan.

Sudah ngerti teknologi, tetap harus belajar

Saya sendiri cukup akrab dengan berbagai teknologi pembelajaran. Bahkan beberapa kali justru jadi narasumber dan berbagi soal teknologi ke guru lain.

Tapi bimtek ini kembali mengingatkan saya: menguasai banyak teknologi bukan berarti selesai belajar. Teknologi terus berubah. Cara murid belajar juga berubah.

Yang perlu terus dipelajari bukan cuma cara menggunakan teknologi, tapi cara menempatkannya supaya benar-benar bermakna dalam pembelajaran.

Karena guru nggak harus jadi orang yang paling banyak pakai aplikasi. Guru harus jadi orang yang mampu memilih teknologi yang tepat untuk kebutuhan murid.

Pulang membawa pertanyaan

Akhirnya bimtek ini bukan sekadar soal perangkat, aplikasi, TPACK, PID, atau MPI. Saya pulang membawa satu pertanyaan sederhana:

Apakah teknologi yang saya gunakan benar-benar membantu murid belajar, atau cuma membuat pembelajaran terlihat lebih digital?

Mungkin itu tantangan digitalisasi pembelajaran yang sebenarnya. Bukan mengejar teknologi paling canggih, tapi memastikan teknologi yang dipakai membuat murid lebih aktif, lebih bernalar, lebih literat, lebih numerat, dan lebih siap menghadapi kehidupan nyata.

Teknologi boleh terus berubah. Aplikasi boleh berganti. Tapi satu hal harus tetap: guru juga harus terus belajar.

Termasuk saya.

Hari ini belajar menjadi narasumber. Besok belajar menjadi murid. Karena ternyata... guru yang mau belajar lagi tidak pernah benar-benar kehilangan kelas. Hanya pindah tempat duduk saja. 😊

Bimtek-digitalisasi-pembelajaran
Reaksi

Masuk untuk memberi reaksi

Bagikan tulisan

BAGIAN KOMENTAR (0)

Ingin ikut berdiskusi?

Masuk untuk Berkomentar

Jadilah yang pertama berkomentar!